Nuansa Religi di MTs Walisongo: Peringatan Isra Mi’raj Berbalut Sarung dan Gamis.
- account_circle Zainudin
- calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
- visibility 144

Pecangaan, 15 Januari 2026 – Suasana berbeda tampak di lingkungan MTs Walisongo pagi ini. Tidak ada pemandangan seragam biru-putih atau pakaian dinas harian yang biasa dikenakan. Seluruh civitas akademika tampil anggun dan bersahaja mengenakan busana muslim tradisional dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Para siswa dan guru laki-laki tampak kompak mengenakan baju koko putih dipadu dengan sarung, sementara siswi dan guru perempuan tampil cantik dan santun mengenakan gamis . Transformasi penampilan ini menambah kekhusyukan momentum perjalanan spiritual agung Rasulullah SAW.

Rangkaian Kegiatan yang Khidmat
Kegiatan dimulai tepat setelah pelaksanaan sholat dhuha berjamaah di pagi hari. Lantunan zikir dan doa memenuhi ruang acara saat seluruh peserta mengikuti pembacaan tahlil dan sholawat Nabi secara bersama-sama. Suasana haru dan gembira menyatu, mengirimkan pujian kepada sang baginda Nabi.
Kepala Madrasah MTs Walisongo, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas antusiasme seluruh keluarga besar madrasah. Beliau menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan momen untuk memperkuat karakter dan kedisiplinan ibadah, terutama sholat lima waktu yang merupakan “oleh-oleh” utama dari peristiwa Isra Mi’raj.
Pesan Mendalam dari KH. Khotibul Umam, Lc.
Puncak acara diisi dengan Ceramah Diniyyah yang menghadirkan tokoh agama kharismatik, KH. Khotibul Umam, Lc.M.Pd, Dalam uraiannya, beliau mengupas tuntas hikmah di balik perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menuju Sidratul Muntaha.

“Isra Mi’raj mengajar kita tentang keteguhan iman dan pentingnya menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta melalui sholat,” tutur beliau di hadapan ratusan siswa yang menyimak dengan antusias.
Mempererat Silaturahmi dengan Ramah Tamah
Sebagai penutup rangkaian acara, kemeriahan ditutup dengan momen ramah tamah dan makan bersama. Tidak ada sekat antara dewan guru dan siswa; semua duduk bersama menikmati hidangan dalam suasana kekeluargaan yang erat.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kecintaan para siswa kepada Nabi Muhammad SAW serta memperkokoh tali silaturahmi antarwarga madrasah.
- Penulis: Zainudin
- Editor: ZA



Saat ini belum ada komentar