Breaking News
light_mode
Beranda » Inspirasi » Pintu Kedua di Tengah Badai

Pintu Kedua di Tengah Badai

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
  • visibility 162

Dul Ghoni memasuki gerbang MTs Sukses Selamanya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Tahun ini, ia resmi menjadi siswa kelas 8. Seharusnya, semangatnya membara seperti seragam, tas, sepatu, dan buku-buku baru yang kini ia kenakan. Namun, hatinya diselimuti mendung tebal. Liburan sekolah yang seharusnya menyenangkan justru menjadi saksi bisu pertengkaran hebat antara Mat Jai, ayahnya, dan Mutia, ibunya. Akhirnya, yang tak terhindarkan terjadi: pisah rumah.

Di sekolah, Dul Ghoni yang dikenal rajin dan ceria kini berubah. Ia sering melamun di bangku, tugas-tugasnya terbengkalai, dan sorot matanya redup. Ia merasa terombang-ambing, seperti perahu kecil tanpa nahkoda di tengah lautan badai. Tak ada yang bisa ia ajak bicara, karena setiap kali ia menatap ayahnya atau ibunya, yang ada hanyalah saling menyalahkan dan raut wajah lelah.

Suatu sore, saat pulang sekolah dengan langkah gontai, takdir membawanya bertemu Mat Pheyang, teman lamanya di SD. Dul Ghoni terkejut melihat penampilan Mat Pheyang. Rambut acak-acakan, pakaian sobek-sobek, dan kalung rantai. Mat Pheyang kini menjadi bagian dari kelompok anak jalanan, yang biasa disebut “anak punk.”

“Ghon, tumben murung?” sapa Mat Pheyang dengan senyum sinis.

Mendengar suara yang dikenalnya, bendungan kesedihan Dul Ghoni runtuh. Ia menceritakan segalanya, tentang rumah yang tak lagi hangat, tentang hatinya yang hancur, dan tentang betapa sulitnya fokus belajar. Ia hanya ingin didengarkan, ingin melepaskan beban.

Mat Pheyang mendengarkan dengan serius, namun di balik tatapannya, ada rencana licik. “Sudahlah, Ghon. Sekolah itu cuma buat pusing. Keluarga? Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, kan? Mereka nggak peduli kamu sedih. Ikut aku saja. Kita bebas! Nggak ada aturan, nggak ada PR, nggak ada pertengkaran. Dunia itu luas, Ghon. Jangan cuma di kamar!”

Kata-kata Mat Pheyang, betapa pun berbahayanya, terasa seperti pelukan hangat yang lama ia rindukan. Dul Ghoni, yang haus perhatian dan kebebasan dari masalah rumah, akhirnya terjerumus. Ia meninggalkan seragam, tas, dan buku-buku barunya. Ia memilih jalan melanglang buana bersama Mat Pheyang dan kawan-kawan, mencari jati diri yang hilang di jalanan.

Ketidakhadiran Dul Ghoni di sekolah menjadi sorotan. Daftar absennya menumpuk. Guru Bimbingan Konseling (BK), Ibu Rima, mencoba menghubungi orang tuanya. Bukannya mencari solusi, panggilan telepon itu malah memicu perdebatan baru antara Mat Jai dan Mutia.

“Itu salahmu! Kamu yang bikin rumah kita begini!” tuduh Mat Jai.

“Enak saja! Kamu sebagai ayah harusnya lebih tegas, bukan malah kabur dari rumah!” balas Mutia.

Di tengah kekalutan ini, Ibu Rima menyadari ada masalah yang jauh lebih besar dari sekadar “kenakalan remaja.” Ini adalah masalah kesehatan mental, keluarga yang disfungsional, dan teriakan minta tolong yang terabaikan.

Ibu Rima mengambil inisiatif solutif. Ia tahu mencari Dul Ghoni di jalanan tanpa bantuan akan sulit, dan menekan orang tuanya hanya akan membuat mereka semakin defensif.

Langkah Solutif:

  1. Pendekatan Holistik: Ibu Rima menghubungi Ketua RT, tokoh masyarakat, dan juga mengumpulkan informasi dari teman-teman dekat Dul Ghoni. Ia menyadari kasus ini harus diselesaikan secara sosial, bukan hanya administratif.
  2. Mediasi Orang Tua: Ibu Rima mengundang Mat Jai dan Ibu Mutia ke sekolah, bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk memediasi mereka dengan bantuan psikolog sekolah dan tokoh masyarakat setempat. Inti pesannya: “Lupakan pertengkaran Anda sejenak. Fokus kita adalah menyelamatkan anak Anda. Dul Ghoni tidak lari dari sekolah, dia lari dari masalah di rumah. Jika Anda berdua tidak bekerja sama, dia akan hilang selamanya.”
  3. Jembatan Komunikasi: Setelah berhasil melembutkan hati orang tuanya, tim sekolah bekerja sama dengan komunitas relawan sosial yang sering berinteraksi dengan anak-anak jalanan. Mereka tidak mencari Dul Ghoni untuk menghukum, tetapi untuk mengajak pulang dengan tangan terbuka.

Seminggu kemudian, Dul Ghoni ditemukan di sebuah taman kota. Penampilannya kuyu, matanya lelah. Mat Pheyang dan kelompoknya sudah ia sadari bukanlah jawaban. Kebebasan yang ditawarkan Mat Pheyang ternyata palsu; yang ada hanyalah rasa lapar, dingin, dan kehampaan.

Ketika Ibu Rima dan kedua orang tuanya yang didampingi mediator datang, Dul Ghoni langsung memeluk ibunya dan menangis.

“Nak, maafkan Ayah dan Ibu,” kata Mat Jai lirih, memecah keheningan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak menyalahkan Mutia. “Kami terlalu egois. Kami lupa, kamu lebih penting dari masalah kami.”

Ibu Mutia juga memeluknya erat. “Pulang, Nak. Kita perbaiki semuanya dari awal. Di rumahmu ada tempat untukmu. Sekolahmu menunggumu.”

Dul Ghoni kembali. Ia memang harus mengulang beberapa pelajaran, namun pihak sekolah memberikannya kesempatan dan dukungan penuh, termasuk sesi konseling mingguan untuk dirinya dan sesi terapi keluarga untuk kedua orang tuanya.

 

Inspirasi:

Dul Ghoni belajar bahwa pelarian ke dunia luar tidak akan pernah memperbaiki kekacauan di dalam dirinya. Ia belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah pada kebebasan tanpa batas ala anak punk, melainkan pada keberanian menghadapi kenyataan, meminta bantuan, dan menerima bahwa setiap masalah besar membutuhkan kolaborasi, bukan perseteruan.

Kisah ini mengajarkan bahwa sekolah bukanlah sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua dan sistem pendukung bagi siswa yang sedang rapuh. Dan bagi orang tua, ini adalah pengingat keras bahwa krisis terbesar seorang anak seringkali adalah dampak dari krisis yang tidak terselesaikan di antara orang dewasa. Dengan inisiatif, empati, dan pendekatan solutif yang berfokus pada kesejahteraan anak, bahkan badai terburuk pun bisa dilewati. Dul Ghoni tidak hanya kembali ke kelas 8; ia kembali ke dirinya sendiri, membawa pelajaran terpenting dalam hidupnya. (MuMa/Jpr)

 

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kalahkan Sejumlah Lawan, Dua Murid MTs Darul Ulum Purwogondo Sabet Piala POPDA Jepara 2025!

    Kalahkan Sejumlah Lawan, Dua Murid MTs Darul Ulum Purwogondo Sabet Piala POPDA Jepara 2025!

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Jepara — Kabar membanggakan datang dari ajang kompetisi olahraga pelajar bergengsi, Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Jepara 2025. Dua atlet muda dari MTs Darul Ulum Purwogondo, Phuja Utama dan Bayu Wahyu Jatmiko, sukses mengukir prestasi gemilang dengan membawa pulang gelar juara. Lomba yang digelar selama dua hari, tepatnya pada 29-30 November 2025, di Gedung Wanita […]

  • Upacara Hari Pahlawan Nasional 2025 di MTs Sunan Muria Kelet: Menghormati Jasa Pahlawan

    Upacara Hari Pahlawan Nasional 2025 di MTs Sunan Muria Kelet: Menghormati Jasa Pahlawan

    • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
    • account_circle Zamroji
    • visibility 798
    • 0Komentar

    Keling, Jepara – MTs Sunan Muria Kelet menggelar upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025, pada hari ini (10 November 2025) di halaman madrasah MTs Sunan Muria Kelet. Upacara yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf sekolah ini dipimpin oleh Sertu Muhammad Junaidi dari Satuan Koramil Kecamatan Keling Jepara, sebagai pembina upacara. Upacara yang berlangsung […]

  • Mengisi Waktu Luang Pasca-ASAS: MTs Zumrotul Wildan Terapkan Panca Cinta Melalui Inovasi Pot Kapiler 3R

    Mengisi Waktu Luang Pasca-ASAS: MTs Zumrotul Wildan Terapkan Panca Cinta Melalui Inovasi Pot Kapiler 3R

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Diyah Lestari
    • visibility 210
    • 0Komentar

    NGABUL (15/12/2025) – Sebagai bagian integral dari pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), khususnya pengamalan Panca Cinta: Cinta Lingkungan, MTs Zumrotul Wildan menggelar kegiatan Kokurikuler bertema Reduce, Reuse, Recycle (3R). Kegiatan yang diselenggarakan pada Senin, 15 Desember 2025, ini melibatkan seluruh siswa kelas VII hingga IX dalam kreasi inovatif Pot Kapiler dari Botol Bekas. Kegiatan ini […]

  • Berharap Raih Dukungan, Kandidat Ketua PK IPNU-IPPNU MTs Nahdlatul Fata Sampaikan Visi-misi

    Berharap Raih Dukungan, Kandidat Ketua PK IPNU-IPPNU MTs Nahdlatul Fata Sampaikan Visi-misi

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle Subhan
    • visibility 313
    • 0Komentar

    Tahapan pemilihan calon Ketua Komisariat IPNU-IPPNU MTs Nahdlatul Fata Petekeyan memasuki tahap penyampaian Visi-Misi. Setelah mereka terpilih melalui Majelis Perwakilan Kelas ( MPK), Para kandidat ketua IPNU-IPPNU hari ini, Senin 17 November 2025 mengikuti sesi kampanye dan penyampaian Visi-misi. Di hadapan 750 siswa-siswi MTS-MA NU Nahdlatul Fata dan sejumlah Dewan guru dan Tendik satu persatu […]

  • Gelar RAP, KSPPS BMT Soko Guru Ma’arif Tetap Fokus Penguatan Anggota

    Gelar RAP, KSPPS BMT Soko Guru Ma’arif Tetap Fokus Penguatan Anggota

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Achmad
    • visibility 158
    • 0Komentar

    ​Jepara – KSPPS BMT Soko Guru Ma’arif (SGM) sukses menggelar Rapat Anggota Perencanaan (RAP) di Tilem Beach Teluk Awur, Jepara pada hari Rabu, 03 Desember 2025. Pertemuan penting ini dihadiri oleh jajaran lengkap Pengurus, Pengawas, Dewan Pengawas Syari’ah, serta seluruh Pengelola, termasuk Manajer, Kepala Cabang, Marketing, dan Teller. ​RAP ini bertujuan utama untuk menyusun perencanaan […]

  • Class Meeting Keren Bersama MTs Nahdlatul Ulama Jinggotan; Menggali Potensi Siswa dalam Olahraga dan Seni

    Class Meeting Keren Bersama MTs Nahdlatul Ulama Jinggotan; Menggali Potensi Siswa dalam Olahraga dan Seni

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Penulis: Ahmad Zainun Ihsan
    • visibility 130
    • 0Komentar

    MTs Nahdlatul Ulama Jinggotan, Jepara-Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nahdlatul Ulama Jinggotan menggelar acara Classmetting 2025 pada Senin,15 Desember 2025, di halaman madrasah. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Madrasah Dra. Hj. Tatik Wahyuningsih, yang meyampaikan pesan agar semua siswa dapat melaksanakan kegiatan dengan rasa senang dan penuh tanggung jawab untuk mempererat persaudaraan dan menumbuhkan semangat […]

expand_less